Rabu, 27 Agustus 2014

KISS THE RAIN








I often close my eyes

And I can see u smile
U reach out for my hand 
And I'm woken from my dream
Altough your heart is mine
It's hollow inside
I never had your love, and I never will..




And every night
I lie awake
Thinking maybe U love me
Like I've always loved U
But how can U love me
Like I love U when
U can't even look me
Sraight in my eyes..

I've never felt this way
To be so in love
To have someone there
Yet feel so alone
Aren't U supposed to be
The one to wipe my tears
The one to say that U
Would never leave..

The waters calm and still
My reflection is there
I see U holding me
But then U disappear
All that is left of u
Is a memory
On that only, exists in my dreams..

I don't know what hurts U
But I can feel it too
And it just hurt so much
To know that I can't do a thing
And deep down in my heart
Somehow I just know
To no matter what
I'll always love U..

So why am I still here in the rain..

Jumat, 15 Agustus 2014

D-1 Independent Day

Terjatuh dalam keadaan seperti ini.
Degup jantung yang terus berdetak, cepat dan semakin cepat.
Dikala mulai menjadi panitia di pendidikan dan latihan, ikut menyeleksi, melatih hingga pada hari ini dimana aku menulis sudah menapaki waktu h-1 hari penting itu.
Menjadi bagian dari Paskibraka 2014 memang awalnya terlihat mudah, tetapi semakin hari permasalahan pun silih berganti.
Ya Allah..
Untuk saat ini aku hanya ingin adik - adik ku diberi keberhasilan atas apa yang telah mereka perjuangkan, diberikan kelancaran dan kesehatan untuk semua pihak yang terlibat. Hingga saat nya nanti, saat dimana mereka dapat menangis terharu karena euphoria keberhasilan, dan kami para team pelatih juga seluruh perangkat dapan berangkul bersama seraya mengucap syukur keberhasilan yang terpampang di seluruh penjuru Indonesia saat Pengibaran ataupun Gelar Senja Bendera copy Pusaka Merah Putih pada 17 Agustus 2014 esok.

Amin..

Do'a kami menyertai kalian, adik.. :)

Selasa, 12 Agustus 2014

Bagai Lentera dalam Labirin Kelam


Banyak cerita baru yang ingin ku bagi. Aku senang, ketika kini kamu telah sedikit menjadi seperti dulu. 

Aku senang, ketika kamu seolah berkata kasar saat memarahiku karena ulah yang kubuat sendiri. 

Aku senang, ketika kamu menghiburku dengan caramu, walau hanya sekedar melapor potongan rambut barumu dengan raut muka aneh yang membuatku tertawa geli.

Aku senang, ketika kamu menggenggam tangan ini kemudian mengijinkanku untuk membantumu dalam mengoper gigi mobil yang kita kendarai.

Aku senang, ketika jauh kita melangkah hanya untuk menyantap makan siang berdua.

Aku senang, ketika malam kamu masih sempat membalas pesan singkat itu, walau hanya sekedar chit chat tanpa arti, tetapi sungguh membuatku bahagia.

Aku senang, ketika kamu kembali memetik senar gitarmu dan bernyanyi dengan ejaan dan lirik yang sungguh amat sangat tidak sesuai.

Aku senang, ketika berpura - pura menatap lurus padahal aku tahu bahwa kamu disana pada saat yang sama sedang memperhatikan diriku yang duduk berdiam.

Aku senang, ketika kamu menggodaku hingga menangis, kemudian kamu tersenyum tulus dan mengulurkan tanganmu untuk membantuku  berdiri.

Aku senang, ketika kamu bertingkah seperti anak laki - laki manja. 

Walau dalam wajah tertunduk malu, tetapi dalam hatiku sangat senang bisa melihatmu tak merasa malu menunjukkan sikap kekanakanmu dihadapanku.

Sungguh benar kamu yang dapat melakukan itu semua saat ini, menyentuh hatiku hingga ke pusat, membuatku melupakan masa lalu yang dulu pernah sempat aku berpikir takkan sanggup ku untuk melupakannya.

Tetapi tidak! kamu yang merubah semua paradigma ku, kamu yang saat itu diberikan tuhan untuk membantuku berjalan dan keluar dari labirin hati terdahulu. 

Tak pernah kumengerti mengapa sampai sejauh ini rasa itu tumbuh. 

Walau ku tahu hubungan yang kita bina terlampau sangat jauh. 

Bukan jarak yang menjadi penghalang, bukan pula waktu yang membuat kita sangat terbatas dalam berjumpa. Tetapi perbedaan itu, kamu pun pasti mengetahuinya.

Tak banyak harapanku jika dalam senggang waktu teringat akan perbedaan yang kita miliki, walau aku dan kamu saling mencintai, tetapi kita tahu apa yang sudah kita pilih. Kita pun sudah sama - sama tahu bagaimana ini akan berakhir.

Biar waktu yang menjawab semuanya, karna aku yakin ini bukan hanya menjadi problematika kita berdua.
Jika memang seandainya saat itu benar - benar tiba, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa rasa yang kumiliki bukan hanya sekedar kata - kata indah seperti tulisan - tulisan ku sebelumnya.

Bukan hanya sekedar penghias hari - hari yang belum tentu berarti. 

Bukan hanya sekedar lantunan beberapa lagu yang kucipta atas dasar inspirasi dari dirimu.

Tetapi rasa ini lebih dari sekedar barisan air mata, do'a dan perjuangan untuk menjadikan diriku lebih baik, agar dapat mengimbangi dirimu dan menebus kesalahanku yang telah menyia-nyiakan perhatian besar mu dimasa dahulu. 

Karena kamu lentera jiwa yang telah memanduku untuk keluar dari kelam nya labirin masa lalu dengan berbagai cara indah mu yang sungguh jarang kutemui sebelumnya. :)

Kamis, 31 Juli 2014

PETIKAN HATI

KETIKA MEMANG KURASA INDAH, TAKKAN KU RAGU UNTUK MEMBERI ITU.  RASA YANG INDAH MENJELMA TIAP INSAN DUNIA. HANYA KAMU YANG DAPAT MENGHIDUPI RASA ITU KEMBALI. LALU, MENGAPA KU HARUS RAGU UNTUK MENYIRAM KEMBALI RASA SERUPA YANG KUPUNYA UNTUKMU???
KARNA PANTAS MEMANG KAMU MENDAPATKANNYA, SETELAH APA YANG TELAH KAMU PERJUANGKAN UNTUK DIRI INDAH YANG BERGEMELUT SEPI INI. TERIMAKASIH :)







untukmu petikan hati dikala sunyi...
e.r.l 19:06 
31 July 2014

Kamis, 24 Juli 2014

FAJAR atau SENJA???

Aku adalah penikmat senja, namun aku juga penikmat fajar,banyak manusia yang beranggapan senja sangatlah menarik. Namun ku tak bisa pungkiri, keindahan fajar pun amat tak tertandingi.
Senja bisa menjadi lebih istimewa, karna mungkin lebih banyak manusia yang menghabiskan waktu nya demi melihat indahnya pergantian siang menjadi malam. Berbeda dengan Fajar, yang banyak ditinggalkan manusia bukan  karena ia tidak indah, melainkan manusia masih mengganggap gelombang tidur dan mimpi yang tabu sebagai keindahan yang sulit untuk dilewatkan. Padahal tanpa disadari mereka telah melewatkan keindahan nyata yang tak banyak orang lain menyadarinya, mungkin dari sana istilah senja lebih istimewa. Baik itu menurutku, menurutmu???
Akupun akan sedikit menggambarkan seperti apa senja dan fajar dalam pikiranku.

Saat fajar, kemilau perak yang menyembul dari ufuk timur dengan hiasan kuning megah menjuntai. Seperti terdapat tirai emas dari balik cakrawala. Berlatarkan pemandangan indah jika diamati dari atas gundukan hijau, atau yang mereka sebut bukit. Kesegaran angin yang berhembus, seperti mengantarkan cipratan kesejukan embun pagi. Ahh.. indahnya Fajar. Tidak hanya itu, ketika fajar yang tak hanya burung pipit berkicau merdu. Seperti menyanyikan lantunan syair pagi yang indah, bersyukur atas kenikmatan tuhan yang memanjakan panca indera. Rerumputan hijau dan kerimbunan pohon pada tiap helai daun, yang memancarkan semilir wangi klorofil daun yang menyatu dengan lembab tanah, haahhh.. wanginya sungguh sangat khas. Berlari kecil menghirup udara segar, yang tak ditemui saat senja menjelang, semakin menjadikan fajar ini istimewa. Ditemani kabut pagi yang turun dengan amat perlahan, sambil berusaha mengunyah sebongkah roti dan meneguk kopi, teh ataupun susu hangat. Sungguh indah saat fajar muncul dari celah ranting pohon pinus berselang cemara. Kemilau cahaya yang menembus helai demi helai dedaunan yang
saling bertumpuk, berlomba merasuk, untuk membahasi tanah yang lembab.



Saat Senja, gemericik air yang mencoba mengejar untaian pasir, duduk bersila sambil menatap langit ditengah keheningan mentari yang perlahan ingin bertukar posisi dengan sang rembulan untuk menyinari bumi. Saat tepat, lembayung sore menyiratkan cahaya oranye bercampur jingga. Desiran ombak yang masih tetap berusaha menggapai selurih rangkaian pasir, menambah keindahan senja, saat duduk bersila. Ayunan daun kelapa yang menggoda dengan tarian khas pesisir, mencoba bergabung dengan indahnya sang senja. Bagai cermin besar yang memancarkan bayang semu sang mentari, menarik garis lurus seperti segitiga raksasa pada samudera lepas. Perlahan merunduk meninggalkan barisan awan bersiluet kemerahan, sungguh indah senja saat sebagai tanda peralihan tugas dua pusat cahaya. 

FAJAR 
atau
SENJA???

Hati yang katanya "PECUNDANG"

Mringkup dalam satu lorong sesak berisikan malaikat - malaikat surgawi yang selalu di puji, memang terkadang menjadi hal yang sulit. Bukan sulit karena selalu ikut bersinar mengikuti aura mereka yang terpancar. Tetapi semua menjadi sulit ketika bongkahan mutiara hitam kecil ingin memercikkan sedikit cahaya mungil, diantara benderang sinar kemilau yang terpancar dari seluruh permata. Dianggap lemah? diremehkan? dikucilkan? sudah pasti semua cacian itu didapat sang mutiara hitam ketika ingin menjadi putih.
Bak permata yang selalu menjadi idola, para manusia "berprestasi" entah dari yang mereka sendiri buat, yang mereka buat - buat, atau yang orang lain sengaja buat?. Kebanyakan dari mereka datang dari figur rupawan, dengan dagu yang sedikit di angkat dan dada yang dibusungkan. Kemudian dengan bangganya mencemooh dan meremehkan kaum mutiara hitam. Dimana kaum mutiara hitam diibaratkan manusia biasa yang "tidak terkenal" tetapi belum tentu hanya selalu memiliki kekurangan dan disangkut - pautkan dengan kekalahan.

hai!!! kami bukan orang yang pantas ditindas. kemampuan kami sama sekali tak ada yang kalian tahu. Bahkan terkadang kami lebih mulia dari kalian, ketika kami mengerjakan sesuatu dengan sangat sempurna, namun kami tutupi karena kami tak ingin kalian cela "mencontek". Kami benci selalu di cemooh. Kami benci selalu diremehkan. Kami benci selalu direndahkan.
Tak ada satupun yang kalian mengerti saat berada di tempat kami berdiri.

Kepada kalian, manusia berprestasi tanpa toleransi.
Kepada kalian, jiwa perkasa tapi tanpa rasa saudara.
Kepada kalian, hati angkuh yang tak tahu arti bersatu.
dan kepada kalian yang berpikir visioner namun menjadikan kelas bawah sebagai tanah berpijak.
Senandungkanlah sesuka hati lagu - lagu puji tentang bodohnya kaum kami, hingga saat itu tiba.
Saat dimana kaum hitam menjelma bagai lahirnya sosok bintang, yang memberi sinar harapan bagi sang rembulan di kala tak satupun manusia menyadari indah bulan takkan berarti tanpa kemilau sang bintang.
Di hari itu berterimakasihlah kalian, dengan keindahan sang bintang yang lahir dari kekelaman ribuan celotehan, hinaan dan cacian yang dengan sengaja para rembulan buat.

Sabtu, 12 Juli 2014

Bukan Hati Jadi Inspirasi

Tergerak hati tak berjiwa

Berdentum keras bagai seringai auman serigala

Ketika memang baris jemari memicu kecepatan detak jantung terlapis rusuk indah

Aku rasa itu..

Rasa yang jarang ditemui

Menyergap erat bagai ribuan kupudalam sangkar lambung

Memanjat praktis lewat celah gemilah kerangka berongga

selongsong pipa tebal terapit dua bola bergelantung pada rongga berlendir

Kupu - kupu telah keluar dari sangkar lambung

Namun tak terdapat satupun buah cair menyeruak dari hilir bibir

Skat pada barisan jemari yang kini menjadi problematika

Tertunduk teramat jauh dalam klise bayang fatamorgana

Mengreyitkan dahi seraya terpaku dalam bumi singgasana

Benarkah ini terjadi??

Benarkah titik ini menjadi awal problematika dan menjadi pelebur di masa depan nanti??

Bukan.. bukan pelebur yang menjadikan kami bersatu

Tetapi pelebur yang menjadikan kami semakin berpisah

Jauh.. jauh dalam kefanaan dunia

Seumpama air dan minyak yang selalu dipisahkan oleh garis lurus dalam bidang datar

Banyak hal yang terus melambung

Melulu terbang bersama keheningan jalur musim gugur

Seakan garis - garis horizontal yang terlontar tak lagi diperdulikan rangkaian hembus angin

Menari meliuk ke dalam gelombang nestapa kehidupan

Namun menjadi indah ketika terjatuh pada genangan air berdesir

Menggambarkan kehidupan baru sosok sang pujangga semu

Bersuara menyisit masih dalam gesekan daun musim gugur

Yang masih terpancang jelas pada tangkai hitam ringkih

Menunggu jatuh, kemudian mati dan membusuk

Hingga akhirnya kembali menyatu dengan tanah yang terdapat pada dataran luas

Yang mereka semua sebut.. BUMI..

E.R.L
dalam bisik semilir angin